All posts filed under “Memori

comment 0

Bangkitnya Lagi KBUI dan Apa Makna Kemunculannya

TERUS TERANG saya termasuk alumni yang kaget dengan bangkitnya lagi Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA KBUI) minggu ini. Organ aksi ini sudah lama ‘mati’ — kalau vacuum kok lebih dari 1 dekade — dan kemunculannya saat ini saya kategorikan sebagai “tepat waktu” di saat kondisi bernegara sedang genting, ketika kepemimpinan sedang absen dan di saat masyarakat butuh harapan. Kurang lebih samalah dengan kemunculannya 19-20 tahun lalu.

Apa itu KA KBUI? Itu adalah gerakan mahasiswa yang lahir dari rahim kampus Universitas Indonesia Depok. Sudah sedari kelahirannya, KBUI berbeda dengan gerakan mahasiswa yang dimotori oleh Senat Mahasiswa UI. KBUI lahir sebagai antitesa Senat Mahasiswa UI dan otokritik pada kampus Universitas Indonesia yang pada saat itu bangga sekali menyebut dirinya sebagai Kampus Perjuangan Orde Baru. Plangnya dulu dipajang di pinggir jalan raya di kampus UI Salemba.

Sejak awal kehadirannya mencolok. Diawali dengan mendirikan Posko KBUI yang dulu dibangun di lapangan seberang kampus FISIP UI. Tanpa izin seingat saya. Dibuat dari tenda terpal kawinan yang disewa, lalu ditambahkan plastik untuk menghindari bocor di kala hujan. Karena kami tidak punya uang, bayarnya belakangan. Itu seingat saya waktu ikut cari-cari tempat penyewaan tenda di Lenteng Agung. Di Posko KBUI yang apa adanya inilah diadakan rapat-rapat konsolidasi gerakan mahasiswa UI yang bersepakat untuk mengubah strategi dari gerakan yang berpuas diri keliling kampus UI menjadi gerakan yang lebih radikal.

Ketika eskalasi gerakan mahasiswa meningkat, ditandai dengan hampir setiap hari kami melakukan demo, Posko KBUI dibangun juga di kampus UI Salemba untuk memudahkan mobilisasi dan konsolidasi.

Spanduk bertuliskan “UI TOLAK HARTO” di aksi besar-besaran mahasiswa UI tahun 98.

Dari Posko KBUI-lah muncul desakan agar gerakan mahasiswa UI berbaur dengan rakyat, membesar bersama gerakan mahasiswa lain di luar UI, mendorong jatuhnya Soeharto dan membuat perubahan yang berarti. Di Posko KBUI inilah saya dulu menghabiskan hari-hari, ikut rapat meskipun tak tahu menahu soal gerakan/politik, ikut membuat spanduk besar bertulisan “UI TOLAK HARTO” untuk dipakai dalam aksi besar mahasiswa UI di depan halte/gapura UI, ikut demonstrasi setiap hari, ikut bersama kawan-kawan KBUI mencoret kata “ORDE BARU” di plang UI dan mengantinya dengan “RAKYAT”, ikut terlibat dalam advokasi gerakan termasuk mengunjungi tempat-tempat bentrok mahasiswa di UGM, UKI, dan banyak lainnya, dll.

Mengingat itu semua, saya pikir ahistoris sekali jadinya ketika Rektorat Universitas Indonesia saat ini mengeluarkan surat menyatakan KBUI bukan organisasi resmi UI. Apa rektorat UI sudah lupa pada sejarah? Lagipula surat yang menyatakan KBUI tidak berhak untuk mencantumkan makara dan bukan bagian dari UI adalah peringatan yang sudah telat 20 tahun.

Surat yang menyedihkan untuk dibaca karena telat dikirim. Harusnya kirim 20 tahun lalu.

Lalu apa arti kemunculannya sekarang? Hari-hari ini, situasi Indonesia kian genting. Demokrasi terancam oleh politisasi agama, hukum disetir oleh mobokrasi, masyarakat cemas dengan terbelahnya kubu dan situasi yang tak menentu. KBUI hadir lagi dengan mendorong munculnya petisi yang ditandatangani oleh 1.168 alumni dan mahasiswa UI untuk menolak pasal penodaan agama. Silakan ikuti sepak terjang KBUI di https://www.facebook.com/KBUI98/

Kemunculan KBUI saat ini saya maknai sebagai upaya untuk menyatukan lagi elemen bangsa minimal dari para alumni dan mahasiswa yang masih kuliah di Universitas Indoenesia, saya maknai juga sebagai upaya mengirim pesan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa krisis ini perlu dipimpin agar tidak semakin memburuk dipermainkan para elit politik, dan terakhir saya maknai sebagai bagian dari kesetiaan kami para alumni KBUI pada janji reformasi 98: mereformasi Indonesia di segala bidang. Tuntutan ini sudah cukup lama diabaikan oleh pemimpin bangsa, kini saatnya diteriakkan kembali.

 

comment 0

Sisi Lain Pramoedya

KIRA-KIRA pada permulaan 1960-an, sebagai seorang yang cukup rajin mengunjungi perpustakaan Museum Pusat di Jalan Merdeka Barat No.12, saya melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang tekun mengumpulkan bahan-bahan dari koran-koran lama yang terbit pada sekitar permulaan abad ke-XX. ketika saya bertanya apa yang sedang mereka kerjakan, mereka menjawab bahwa dosen sejarah mereka di Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Pramoedya Ananta Toer, menyuruh mereka mencatat peristiwa-peristiwa politik, sosial dan kondisi rakyat pada zaman tersebut.

!–more–>

Nama Pramoedya pada zaman itu sudah terkenal sebagai penulis novel dan buku-buku lain, salah satunya Hoa Kiao, yang waktu itu dilarang beredar, dan kini diterbitkan lagi. Dari catatan-catatan koran lama ini, Pramoedya menyusun kuliah-kuliahnya tentang zaman yang kita kenal sebagai zaman “kebangkitan nasional”. Secara konvensional dalam penulisan sejarah Indonesia, jaman ini dilambangkan dengan berdirinya Budi Utomo (1908) yang diberi nama “Kebangkitan Nasional”. Bahan kuliah Pramoedya tersebut pernah terbit dalam bentuk stensil, dan untungnya diberikan pada beberapa sarjana asing, antara lain Dr. Ruth McVey dan Harry J. Benda, sehingga tersimpan di beberapa perpustakaan universitas di Amerika Serikat seperti Yale University dan Cornell University.

Screen shot 2016-07-14 at 10.58.31 PMTulisan ini saya kutip dari pengantar yang ditulis sejarawan ternama Ong Hok Ham berjudul “Pramoedya dkk dan Penulisan Sejarah” dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946). Buku ini disusun oleh Pramoedya Ananta Toer, adiknya Koesalah Soebagio Toer, Ediati Kamil. Baik Ong, Pram dan Koesalah, kini telah tiada. Kita menjadi tahu bahwa saat Pramoedya sudah terkenal sebagai penulis novel dan buku non-fiksi, ia adalah dosen sejarah di Fakultas Sastra Universitas Res Publica.
Lalu kisah tentang stensilan bahan kuliah yang dimaksud, kini bisa dibaca lagi. Bahan kuliah dosen sejarah Pramoedya Ananta Toer ini saya dapatkan dari pertukaran data, tapi bila melihat metadata terlihat bahwa dokumen digital ini berada paling tidak pada tanggal 3 Juli 2016 oleh seseorang yang bernama Suha*** A**** (sengaja saya sembunyikan).
Apa artinya? Beberapa teman mengatakan, menarik sekali bagaimana sebagai dosen sejarah, Pramoedya membuka kemungkinan bahwa diktat sejarah ini dapat sewaktu-waktu diperbaiki. Tapi bila membaca pengantar lengkap yang ditulis oleh Ong Hok Ham, saya berpikir proses kolaboratif mahasiswa dan murid dalam membaca teks-teks sejarah ini dilakukan secara aktif, bukan searah.
Silakan membaca buku pertama dari diktat Sejarah Modern Indonesia ini. Atau silakan unduh di sini

comment 0

Ketika Hanya Ada Kata

Saya percaya pada penciptaan makna di balik kata, terutama pada kata-kata sederhana.

ALMARHUM ayah saya pernah bertanya pada saya, ternyata cukup keji bila diingat-ingat lagi, “Mau kasih makan apa keluargamu nanti? Apa mereka bisa kenyang dengan kata-kata?” Pertanyaan itu kembali lagi ke ingatan saya hari ini, tatkala cuma sepi tergolek di sini. Saya masih ingat apa jawaban saya dan di kemudian hari ini yang menjadi motivasi utama saya dalam menulis, entah itu esai, entah itu puisi, entah itu cerpen, entah itu coret-coretan untuk diri sendiri.

comment 0

Satu Dekade Telah Lewat

Sewaktu film tersebut diproduksi, saya tidur setelah pak Pram tidur dan bangun sebelum pak Pram bangun.

SATU DEKADE atau sepuluh tahun sudah Pramoedya Ananta Toer meninggal dan saya belum juga bisa menepati janji saya padanya untuk merilis film dokumenter tentang pak Pram. Penyebabnya sudah pernah saya tuliskan dan ditambah sekarang bahan film itu sudah tidak ada di tangan saya. Sudah di luar kuasa saya.