comment 0

Keistimewaan Indonesia dan Stigma Atas Papua

“Indonesia! Indonesia!” Pekik kemenangan itu terdengar di tanah Eropa tatkala paduan suara anak Indonesia The Resonanz Children’s Choir (TRCC) menang di lomba seni tarik suara di Venezia, Italia, 9 Juli 2016.

Pekik kemenangan itu persis menggambarkan semangat yang ada di dalam lagu Yamko Rambe Yamko yang mereka nyanyikan. Sekalipun terdengar riang, tahukah kita bahwa lagu Yamko Rambe Yamko adalah sebuah ikhtiar peperangan?

comment 0

Ngeri-ngeri Sedap Berburu Pikachu

LELAKI tambun berusia 40 tahun itu berjalan sambil menatap layar smartphone di sekitar perumahan BSD Tangerang. Lalu tiba-tiba jarinya bergerak cepat. Hap! Ia berhasil menangkap satu Pokemon. Skor bertambah dan ia makin semangat menuju Pokestop berikutnya.

Lelaki itu bernama Dennis Cornelius. Ia penggemar online game yang ikut mengunduh Pokemon GO karena penasaran. Begitu ia mulai memainkannya, ia merasakan permainan ini menyodorkan adventure yang seru dibanding game yang biasa ia mainkan. Dari yang sebelumnya duduk di depan TV, kini ia main game di jalanan.

Rupanya rentang usia bukan batasan memainkan Pokemon. Permainan ini tenar seantero jagat. Padahal, usia Pokemon GO ini belum ada sebulan. Siapakah yang paling gembira hatinya dari Pokemon GO ini selain para pemain? Tentu saja kreatornya: John Hanke.

comment 0

Sisi Lain Pramoedya

KIRA-KIRA pada permulaan 1960-an, sebagai seorang yang cukup rajin mengunjungi perpustakaan Museum Pusat di Jalan Merdeka Barat No.12, saya melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang tekun mengumpulkan bahan-bahan dari koran-koran lama yang terbit pada sekitar permulaan abad ke-XX. ketika saya bertanya apa yang sedang mereka kerjakan, mereka menjawab bahwa dosen sejarah mereka di Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Pramoedya Ananta Toer, menyuruh mereka mencatat peristiwa-peristiwa politik, sosial dan kondisi rakyat pada zaman tersebut.

!–more–>

Nama Pramoedya pada zaman itu sudah terkenal sebagai penulis novel dan buku-buku lain, salah satunya Hoa Kiao, yang waktu itu dilarang beredar, dan kini diterbitkan lagi. Dari catatan-catatan koran lama ini, Pramoedya menyusun kuliah-kuliahnya tentang zaman yang kita kenal sebagai zaman “kebangkitan nasional”. Secara konvensional dalam penulisan sejarah Indonesia, jaman ini dilambangkan dengan berdirinya Budi Utomo (1908) yang diberi nama “Kebangkitan Nasional”. Bahan kuliah Pramoedya tersebut pernah terbit dalam bentuk stensil, dan untungnya diberikan pada beberapa sarjana asing, antara lain Dr. Ruth McVey dan Harry J. Benda, sehingga tersimpan di beberapa perpustakaan universitas di Amerika Serikat seperti Yale University dan Cornell University.

Screen shot 2016-07-14 at 10.58.31 PMTulisan ini saya kutip dari pengantar yang ditulis sejarawan ternama Ong Hok Ham berjudul “Pramoedya dkk dan Penulisan Sejarah” dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II (1946). Buku ini disusun oleh Pramoedya Ananta Toer, adiknya Koesalah Soebagio Toer, Ediati Kamil. Baik Ong, Pram dan Koesalah, kini telah tiada. Kita menjadi tahu bahwa saat Pramoedya sudah terkenal sebagai penulis novel dan buku non-fiksi, ia adalah dosen sejarah di Fakultas Sastra Universitas Res Publica.
Lalu kisah tentang stensilan bahan kuliah yang dimaksud, kini bisa dibaca lagi. Bahan kuliah dosen sejarah Pramoedya Ananta Toer ini saya dapatkan dari pertukaran data, tapi bila melihat metadata terlihat bahwa dokumen digital ini berada paling tidak pada tanggal 3 Juli 2016 oleh seseorang yang bernama Suha*** A**** (sengaja saya sembunyikan).
Apa artinya? Beberapa teman mengatakan, menarik sekali bagaimana sebagai dosen sejarah, Pramoedya membuka kemungkinan bahwa diktat sejarah ini dapat sewaktu-waktu diperbaiki. Tapi bila membaca pengantar lengkap yang ditulis oleh Ong Hok Ham, saya berpikir proses kolaboratif mahasiswa dan murid dalam membaca teks-teks sejarah ini dilakukan secara aktif, bukan searah.
Silakan membaca buku pertama dari diktat Sejarah Modern Indonesia ini. Atau silakan unduh di sini

comment 0

Ketika Hanya Ada Kata

Saya percaya pada penciptaan makna di balik kata, terutama pada kata-kata sederhana.

ALMARHUM ayah saya pernah bertanya pada saya, ternyata cukup keji bila diingat-ingat lagi, “Mau kasih makan apa keluargamu nanti? Apa mereka bisa kenyang dengan kata-kata?” Pertanyaan itu kembali lagi ke ingatan saya hari ini, tatkala cuma sepi tergolek di sini. Saya masih ingat apa jawaban saya dan di kemudian hari ini yang menjadi motivasi utama saya dalam menulis, entah itu esai, entah itu puisi, entah itu cerpen, entah itu coret-coretan untuk diri sendiri.