All posts tagged “2017

comment 0

Bangkitnya Lagi KBUI dan Apa Makna Kemunculannya

TERUS TERANG saya termasuk alumni yang kaget dengan bangkitnya lagi Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA KBUI) minggu ini. Organ aksi ini sudah lama ‘mati’ — kalau vacuum kok lebih dari 1 dekade — dan kemunculannya saat ini saya kategorikan sebagai “tepat waktu” di saat kondisi bernegara sedang genting, ketika kepemimpinan sedang absen dan di saat masyarakat butuh harapan. Kurang lebih samalah dengan kemunculannya 19-20 tahun lalu.

Apa itu KA KBUI? Itu adalah gerakan mahasiswa yang lahir dari rahim kampus Universitas Indonesia Depok. Sudah sedari kelahirannya, KBUI berbeda dengan gerakan mahasiswa yang dimotori oleh Senat Mahasiswa UI. KBUI lahir sebagai antitesa Senat Mahasiswa UI dan otokritik pada kampus Universitas Indonesia yang pada saat itu bangga sekali menyebut dirinya sebagai Kampus Perjuangan Orde Baru. Plangnya dulu dipajang di pinggir jalan raya di kampus UI Salemba.

Sejak awal kehadirannya mencolok. Diawali dengan mendirikan Posko KBUI yang dulu dibangun di lapangan seberang kampus FISIP UI. Tanpa izin seingat saya. Dibuat dari tenda terpal kawinan yang disewa, lalu ditambahkan plastik untuk menghindari bocor di kala hujan. Karena kami tidak punya uang, bayarnya belakangan. Itu seingat saya waktu ikut cari-cari tempat penyewaan tenda di Lenteng Agung. Di Posko KBUI yang apa adanya inilah diadakan rapat-rapat konsolidasi gerakan mahasiswa UI yang bersepakat untuk mengubah strategi dari gerakan yang berpuas diri keliling kampus UI menjadi gerakan yang lebih radikal.

Ketika eskalasi gerakan mahasiswa meningkat, ditandai dengan hampir setiap hari kami melakukan demo, Posko KBUI dibangun juga di kampus UI Salemba untuk memudahkan mobilisasi dan konsolidasi.

Spanduk bertuliskan “UI TOLAK HARTO” di aksi besar-besaran mahasiswa UI tahun 98.

Dari Posko KBUI-lah muncul desakan agar gerakan mahasiswa UI berbaur dengan rakyat, membesar bersama gerakan mahasiswa lain di luar UI, mendorong jatuhnya Soeharto dan membuat perubahan yang berarti. Di Posko KBUI inilah saya dulu menghabiskan hari-hari, ikut rapat meskipun tak tahu menahu soal gerakan/politik, ikut membuat spanduk besar bertulisan “UI TOLAK HARTO” untuk dipakai dalam aksi besar mahasiswa UI di depan halte/gapura UI, ikut demonstrasi setiap hari, ikut bersama kawan-kawan KBUI mencoret kata “ORDE BARU” di plang UI dan mengantinya dengan “RAKYAT”, ikut terlibat dalam advokasi gerakan termasuk mengunjungi tempat-tempat bentrok mahasiswa di UGM, UKI, dan banyak lainnya, dll.

Mengingat itu semua, saya pikir ahistoris sekali jadinya ketika Rektorat Universitas Indonesia saat ini mengeluarkan surat menyatakan KBUI bukan organisasi resmi UI. Apa rektorat UI sudah lupa pada sejarah? Lagipula surat yang menyatakan KBUI tidak berhak untuk mencantumkan makara dan bukan bagian dari UI adalah peringatan yang sudah telat 20 tahun.

Surat yang menyedihkan untuk dibaca karena telat dikirim. Harusnya kirim 20 tahun lalu.

Lalu apa arti kemunculannya sekarang? Hari-hari ini, situasi Indonesia kian genting. Demokrasi terancam oleh politisasi agama, hukum disetir oleh mobokrasi, masyarakat cemas dengan terbelahnya kubu dan situasi yang tak menentu. KBUI hadir lagi dengan mendorong munculnya petisi yang ditandatangani oleh 1.168 alumni dan mahasiswa UI untuk menolak pasal penodaan agama. Silakan ikuti sepak terjang KBUI di https://www.facebook.com/KBUI98/

Kemunculan KBUI saat ini saya maknai sebagai upaya untuk menyatukan lagi elemen bangsa minimal dari para alumni dan mahasiswa yang masih kuliah di Universitas Indoenesia, saya maknai juga sebagai upaya mengirim pesan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa krisis ini perlu dipimpin agar tidak semakin memburuk dipermainkan para elit politik, dan terakhir saya maknai sebagai bagian dari kesetiaan kami para alumni KBUI pada janji reformasi 98: mereformasi Indonesia di segala bidang. Tuntutan ini sudah cukup lama diabaikan oleh pemimpin bangsa, kini saatnya diteriakkan kembali.

 

comment 0

Yang Tidak Dipahami Denny Siregar dan Kelompok Pro Semen

SEJAK tahun 2014, saya intens mengamati bagaimana korporasi seperti PT Semen Indonesia berusaha menggiring opini publik di media dan juga di media sosial. Komentar saya biasanya pendek saja: mengerikan. Komentar tersebut bisa diartikan “menakutkan”, tetapi bisa juga diartikan dalam bentuk kiasan sebagai “luar biasa buruknya”.