All posts tagged “Mei 98

comment 0

Bangkitnya Lagi KBUI dan Apa Makna Kemunculannya

TERUS TERANG saya termasuk alumni yang kaget dengan bangkitnya lagi Kesatuan Aksi Keluarga Besar Universitas Indonesia (KA KBUI) minggu ini. Organ aksi ini sudah lama ‘mati’ — kalau vacuum kok lebih dari 1 dekade — dan kemunculannya saat ini saya kategorikan sebagai “tepat waktu” di saat kondisi bernegara sedang genting, ketika kepemimpinan sedang absen dan di saat masyarakat butuh harapan. Kurang lebih samalah dengan kemunculannya 19-20 tahun lalu.

Apa itu KA KBUI? Itu adalah gerakan mahasiswa yang lahir dari rahim kampus Universitas Indonesia Depok. Sudah sedari kelahirannya, KBUI berbeda dengan gerakan mahasiswa yang dimotori oleh Senat Mahasiswa UI. KBUI lahir sebagai antitesa Senat Mahasiswa UI dan otokritik pada kampus Universitas Indonesia yang pada saat itu bangga sekali menyebut dirinya sebagai Kampus Perjuangan Orde Baru. Plangnya dulu dipajang di pinggir jalan raya di kampus UI Salemba.

Sejak awal kehadirannya mencolok. Diawali dengan mendirikan Posko KBUI yang dulu dibangun di lapangan seberang kampus FISIP UI. Tanpa izin seingat saya. Dibuat dari tenda terpal kawinan yang disewa, lalu ditambahkan plastik untuk menghindari bocor di kala hujan. Karena kami tidak punya uang, bayarnya belakangan. Itu seingat saya waktu ikut cari-cari tempat penyewaan tenda di Lenteng Agung. Di Posko KBUI yang apa adanya inilah diadakan rapat-rapat konsolidasi gerakan mahasiswa UI yang bersepakat untuk mengubah strategi dari gerakan yang berpuas diri keliling kampus UI menjadi gerakan yang lebih radikal.

Ketika eskalasi gerakan mahasiswa meningkat, ditandai dengan hampir setiap hari kami melakukan demo, Posko KBUI dibangun juga di kampus UI Salemba untuk memudahkan mobilisasi dan konsolidasi.

Spanduk bertuliskan “UI TOLAK HARTO” di aksi besar-besaran mahasiswa UI tahun 98.

Dari Posko KBUI-lah muncul desakan agar gerakan mahasiswa UI berbaur dengan rakyat, membesar bersama gerakan mahasiswa lain di luar UI, mendorong jatuhnya Soeharto dan membuat perubahan yang berarti. Di Posko KBUI inilah saya dulu menghabiskan hari-hari, ikut rapat meskipun tak tahu menahu soal gerakan/politik, ikut membuat spanduk besar bertulisan “UI TOLAK HARTO” untuk dipakai dalam aksi besar mahasiswa UI di depan halte/gapura UI, ikut demonstrasi setiap hari, ikut bersama kawan-kawan KBUI mencoret kata “ORDE BARU” di plang UI dan mengantinya dengan “RAKYAT”, ikut terlibat dalam advokasi gerakan termasuk mengunjungi tempat-tempat bentrok mahasiswa di UGM, UKI, dan banyak lainnya, dll.

Mengingat itu semua, saya pikir ahistoris sekali jadinya ketika Rektorat Universitas Indonesia saat ini mengeluarkan surat menyatakan KBUI bukan organisasi resmi UI. Apa rektorat UI sudah lupa pada sejarah? Lagipula surat yang menyatakan KBUI tidak berhak untuk mencantumkan makara dan bukan bagian dari UI adalah peringatan yang sudah telat 20 tahun.

Surat yang menyedihkan untuk dibaca karena telat dikirim. Harusnya kirim 20 tahun lalu.

Lalu apa arti kemunculannya sekarang? Hari-hari ini, situasi Indonesia kian genting. Demokrasi terancam oleh politisasi agama, hukum disetir oleh mobokrasi, masyarakat cemas dengan terbelahnya kubu dan situasi yang tak menentu. KBUI hadir lagi dengan mendorong munculnya petisi yang ditandatangani oleh 1.168 alumni dan mahasiswa UI untuk menolak pasal penodaan agama. Silakan ikuti sepak terjang KBUI di https://www.facebook.com/KBUI98/

Kemunculan KBUI saat ini saya maknai sebagai upaya untuk menyatukan lagi elemen bangsa minimal dari para alumni dan mahasiswa yang masih kuliah di Universitas Indoenesia, saya maknai juga sebagai upaya mengirim pesan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa krisis ini perlu dipimpin agar tidak semakin memburuk dipermainkan para elit politik, dan terakhir saya maknai sebagai bagian dari kesetiaan kami para alumni KBUI pada janji reformasi 98: mereformasi Indonesia di segala bidang. Tuntutan ini sudah cukup lama diabaikan oleh pemimpin bangsa, kini saatnya diteriakkan kembali.

 

comment 0

Penyelesaian Mei 98: Mencari Solusi di Tengah Distorsi

Seperti apa kira-kira penyelesaian kasus Mei 98 di tangan Presiden Jokowi? Apakah Nawacita tentang penyelesaian HAM masa lalu bisa terlaksana?

“INI pembohongan publik! Kejadiannya tidak begitu,” serapah kami berenam usai menonton film layar lebar “Di Balik 98″ debut Lukman Sardi di bulan Januari 2015. Terus terang kami marah. Saya bahkan berupaya menenangkan seorang kawan, mantan korlap Aksi 98 yang emosi.

Serapah kami bukan ditujukan pada kehebatan properti yang ditunjukkan film ini, yang kurang lebih identik pada kurun 17 tahun lalu. Serapah kami bukan pada akting bintang muda Chelsea Islan. Serapah kami tertuju pada distorsi peristiwa Mei 98 17 tahun lalu yang dipertontonkan oleh film:

1. Kehilangan besar saat Soeharto lengser

2. Panglima ABRI bertanggungjawab penuh pada keamanan dalam negeri

3. Kedekatan tentara dan mahasiswa dalam kurun waktu tersebut

4. Pengerdilan gerakan reformasi menjadi sebatas gerakan mahasiswa saja
Dengan pengadeganan kejadian-kejadian tadi, maka layak bila film ini didakwa sepenuhnya fiksi belaka dan menyandang gelar film propaganda. Kalaupun ada latar sejarah 1998, film ini hanya meminjam “baju” dan  mengubah isinya dengan pesannya sendiri.
Propaganda Orde Baru?

Sulit untuk memastikan apakah film ini bagian dari propaganda Orde Baru. Kalau diingat, 17 tahun lalu gerakan reformasi tak hanya terpusat ke menurunkan Soeharto, tetapi juga ingin mencabut Orde Baru sampai ke akar-akarnya. Alih-alih kedua tujuan itu tercapai, 17 tahun kemudian baik Soeharto maupun Orde Baru masih punya pengaruh besar dalam kehidupan negara dan masyarakat.
image
Itu artinya pada saat film ini dibuat oleh Lukman Sardi dan MNC, konteks sosial politik masih didominasi oleh kekuatan “lama”. Kekuatan “lama” ini yang mencoba bangkit dengan upaya menyucikan diri. Sepengetahuan saya, film ini semula dimaksudkan untuk ditayangkan pada masa pilpres tahun lalu untuk mendukung salah satu pasangan capres. Bisa jadi film ini tadinya ditujukan sebagai salah satu platform propaganda lewat jalur budaya pop dengan target anak-anak muda yang terputus ingatannya pada siapa itu Soeharto dan apa itu Orde Baru dan menggiring mereka untuk memilih pasangan capres tertentu.
Tapi apa daya, Jokowi-JK yang akhirnya menang dan film ini kemudian ditayangkan 15 Januari 2015. Tetapi apakah propagandanya gagal? Tidak juga. Film ini sebagaimana dilansir oleh filmindonesia.or.id ditonton oleh 648.947 penonton dan 2 hari lalu terpilih menjadi film terfavorit Indonesian Movie Award/IMA 2015. Terfavorit artinya terpilih terbanyak via SMS bukan dipilih oleh dewan juri menjadi yang terbaik.
Apa artinya? Film propaganda ini diterima dengan baik dan para penonton dan pemilih film Di Balik 98 di ajang IMA 2015 kelihatannya tidak keberatan dengan distorsi peristiwa Mei 98. Kalaupun ada yang keberatan, paling hanya sebagian kecil seperti saya dan teman-teman eks aktivis mahasiswa 98 dan mereka tidak ikut ajang IMA 2015.
Pengabaian Cita-Cita Reformasi

Distorsi pada sejarah Mei 98 hanya salah satu masalah saja. Film ini cuma salah satunya. Ada juga yang berusaha mendistorsi lewat buku dan seminar-seminar. Namun yang lebih akut dari distorsi adalah pengabaian cita-cita reformasi itu sendiri.
image
Selama 17 tahun hal-hal yang diinginkan untuk cepat menjadi lebih baik tidak juga selesai dengan sendirinya. Persoalan konflik dan korban peristiwa kekejaman Orde Baru tidak kunjung diakui dan diselesaikan. Sampai hari ini, kelompok korban masih melakukan Aksi Kamisan di depan istana. Yang lain, masih berusaha memegang harapan akan janji penyelesaian yang diucapkan Jokowi di awal pemerintahannya.
Nawacita yakni 9 prioritas kerja pemerintahan Jokowi-JK yang mengamanatkan penyelesaian perkara HAM masa lalu seperti mandek entah di mana. Harapan korban masih ada, tapi tentu tidak sebesar ketika Jokowi kali pertama menjanjikan. Mungkin Jokowi tersandera oleh kelompok-kelompok kepentingan di dalam lingkaran kekuasaannya sehingga Nawacita belum bekerja sebagaimana yang diharapkan.
Apakah Jokowi akan abai dan kemudian membantarkan Nawacitanya sendiri? Kita belum bisa menjawab sekarang. Namun ada baiknya, Jokowi terus diingatkan dan diingatkan dan diingatkan agar tidak melupakan janji-janji politiknya sendiri.
Pencarian Solusi Setelah 17 Tahun

Atas distorsi yang terjadi, sejumlah kawan yang bergerak 17 tahun lalu mengajak membuat tandingan gagasan. Membuat film, menyusun buku, mengurai fakta, dengan tujuan agar distorsi itu bisa diluruskan. Memang sejarah ditulis oleh para pemenang, tetapi diam saja atas praktik distorsi adalah tindakan yang tidak bijak.
image
Sedangkan penyelesaian pada isu-isu reformasi dan HAM masa lalu, ada solusi keadilan restoratif bagi korban untuk melengkapi solusi keadilan bagi para pelanggar HAM. Dua solusi ini tengah diupayakan dan tentu saja hanya bisa dijalankan bila negara berkomitmen untuk menyelesaikan persoalan ini.
Ternyata waktu 17 tahun masih belum cukup untuk membenahi negara ini dari kekacauan yang disebabkan Soeharto dan Orde Baru. Butuh lebih dari sekedar presiden baru ini yang meskipun dirinya terlepas dari beban masa lalu tetapi dirinya dipenjara oleh kekuatan kepentingan oligarkis dan koruptif di sekitarnya. Perubahan ini butuh kita semua sekali lagi.
[dam]

comments 7

Bulan Mei dan Persoalan Yang Tak Kunjung Usai

Kita tak bisa memungkiri kenyataan, persoalan Mei adalah persoalan yang tidak pernah terselesaikan, sekalipun kita begitu ingin tumpukan persoalan ini tuntas diselesaikan agar kita bisa melangkah maju.

menolaklupa

INILAH bulan Mei, bulan pergerakan bagi Indonesia. Sejak tanggal 1 hingga akhir bulan, ada beragam aktivitas yang terjadi. Tanggal 1 diramaikan dengan Hari Buruh, itu artinya para buruh merayakan hari spesial ini — yang kemudian dinyatakan sebagai hari libur nasional di Indonesia sejak 2013 — dengan pewartaan bahwa perjuangan buruh untuk mencapai taraf hidup layak itu harus tetap digaungkan terus-menerus. Persoalan buruh masih jauh dari selesai. Semua kita tahu itu. Tanggal 2 diisi dengan perenungan tentang Hari Pendidikan. Dalam renungan dalam, kita mengenang bagaimana upaya pendidikan bagi pribumi diperjuangkan dulu dan didapat lewat Politik Etis di zaman Hindia Belanda, tetapi sekaligus kita meringis menatap persoalan Ujian Nasional yang tak kunjung usai. Tanggal 5 Mei sebagian orang mengenangnya sebagai hari lahir Karl Marx, yang karya-karya pemikirannya masih dilarang beredar dan diajarkan di Indonesia hingga sekarang lewat Tap MPRS/XXV/1966 tentang Larangan Penyebaran Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme. Tanggal 8 Mei, Marsinah buruh perempuan yang dibunuh dan ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, menyusul untuk diperingati dan persoalan HAM bagi aktivis yang dibunuh kembali mencuat. Di tanggal yang sama juga, masih terngiang peristiwa Gejayan, ketika pendudukan mahasiswa dan rakyat Yogya atas jalan Gejayan dibubarkan paksa oleh aparat dan Mozes Gatotkaca tewas menjadi korban. Tanggal 9 Mei, sejarah mencatat Henk Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal partai yang mendengar namanya sudah menciptakan fobia tersendiri. Tanggal sesudahnya kita akan diramaikan dengan persoalan penculikan dan hilangnya aktivis pro-demokrasi oleh operasi militer Indonesia yang dilakukan tiga tahap menjelang Pemilu 1997 di bulan Mei dan Sidang Umum MPR 1998. Persoalan kian blunder. Selain 13 aktivis yang hilang belum ditemukan, 9 yang dilepaskan seperti kubu yang terpecah.

Saya ingin berhenti sebentar untuk menambahkan beberapa informasi terbaru, juga sekaligus memunculkan persoalan lain. Bulan Mei 2014 menjadi berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tengah persoalan pencalonan Prabowo Subianto sebagai presiden, tiba-tiba ucapan Mayor Jendral (Purn) Kivlan Zen di acara Debat TVOne 28 April 2014 menjadi bumerang bagi capres yang didukungnya. Mantan Kepala Staf Kostrad tersebut mengaku tahu di mana 13 aktivis itu ‘dihilangkan’

Dalam debat yang dipandu Alfito Deannova, Kivlan Zein secara berapi-api mengatakan, “Yang menculik dan hilang, tempatnya saya tahu di mana, ditembak, dibuang.” Bahkan, Kivlan mengatakan, jika nanti disusun sebuah panitia untuk menyelidiki lagi kasus penghilangan 13 aktivis itu, dia bersedia bersaksi. Tak urung, ucapannya itu kemudian merembet cepat membakar hutan yang selama ini kelihatan gelap dan penuh misteri.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=PHHQf5W7heU&w=500&h=375]

Mencuatnya informasi Kivlan Zein ini sempat saya tanyakan kepada Mugiyanto dari Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) apakah apa yang keluar dari mantan Kakostrad 98 bisa menjadi temuan baru yang mendorong diketemukannya ke-13 aktivis yang hilang. Mugiyanto adalah salah satu dari mereka yang diculik dan kembali. Ketika itu Mugiyanto berstatus mahasiswa Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, dan berusia 25 tahun. Mugi tentu orang yang tepat saya tanya, karena IKOHI punya fokus kerja selama 16 tahun untuk menyelesaikan persoalan ini. Menurut Mugiyanto, Kivlan Zein ini sudah pernah dipanggil dan pernah membeberkan keterangan perihal penculikan aktivis kepada Komnas HAM dan informasi yang disampaikannya ‘aneh’. Itu berarti, pemanggilan kembali Kivlan Zein bisa dijadikan sebuah petunjuk bagi Komnas HAM dan Kejaksaan Agung untuk mengurai informasi ‘aneh’ tersebut berdasar keterangan terbaru Kivlan bahwa ia tahu di mana lokasi ke-13 aktivis yang diculik tersebut.

Persoalan tidak berhenti sampai di sana karena bila benar Kivlan Zein selaku Kakostrad pada Mei 1998 mengetahui informasi ini, berarti ada informasi yang selama ini tidak pernah disampaikan secara jujur dan terbuka kepada para penyelidik kasus pelanggaran HAM ini. Oleh karena itu, Komnas HAM bisa melakukan penyelidikan kepada Wiranto selaku Panglima ABRI sekaligus juga kepada Prabowo selaku Pangkostrad. Karena berdasarkan keterangan Kivlan Zein, aksi penangkapan/pengamanan ini atas perintah Feisal Tanjung yang kemudian diganti Wiranto sebagai panglima ABRI. Saya pikir setelah 16 tahun persoalan ini terjadi, sudah saatnya ada titik terang yang bisa dijadikan batu pijakan untuk penyelesaian persoalan ini di masa depan. Paling tidak, kejelasan nasib 13 aktivis itu diketahui: apakah dibunuh, atau kapan ditembak, lalu di mana dikuburnya? Selama ini kita mendapat informasi dari kawat Wikileaks 1761 bahwa para aktivis tersebut dikubur di bawah aspal landasan bandara, sebagaimana kutipan ini “There are rumors that some of these were buried beneath the asphalt of the airport highway.” Namun, penyelidikan dan pembuktian akan menjawab persoalan ini.

Kembali ke hari-hari di bulan Mei. Pada 12 Mei, peringatan Tragedi Trisakti mengenang 4 mahasiswa yang ditembak dengan peluru tajam pada bulan Mei 1998 karena ingin menyampaikan aspirasi dari kampus mereka di Grogol ke gedung DPR/MPR. Lalu berturut-turut 13-15 Mei mengemuka kembali persoalan Kerusuhan Mei 98 yang hingga sekarang penyelesaiannya cenderung diabaikan.

Saya mengajak lagi untuk membaca laporan investigasi Asiaweek yang dirilis pada 24 Juli 1998. Laporan tersebut ditulis oleh Susan Berfield dan Dewi Loveard. Susan Berfield pada masa itu bertugas untuk Asiaweek Hongkong dan saat ini bekerja pada Bloomberg. Laporan investigasi Asiaweek ini diberi tajuk: “Ten Days That Shook Indonesia” — judul yang segera mengingatkan kita pada buku yang ditulis oleh jurnalis John Reed tentang Revolusi Oktober di Rusia pada tahun 1917 berjudul Ten Days That Shook The World. Agaknya Susan Berfield ingin memberikan kesan ia ada dan terlibat pada 10 hari yang mengubah Indonesia itu sejak 12 Mei 1998.

Dalam laporan tersebut, Susan Berfield secara gamblang membeberkan teori konspirasi mengenai apa yang terjadi saat itu dan semua terpusat pada Prabowo Subianto selaku mastermind. Teori yang tentu saja perlu dicermati, ditelaah, dan dikembangkan atau dicampakkan. Sampai sejauh ini, teori ini pernah dibantah oleh Fadli Zon yang memakai penanda tanggal yang sama 12-22 Mei 1998 dan ditulis dalam buku berjudul Politik Huru-Hara Mei 1998 dan terbit pada 2004 lewat lembaga yang dipimpinnya. Tahun 2013 lalu, buku ini diterbitkan ulang lagi. Teori konspirasi baru dikembangkan dengan menunjuk hidung Wiranto. Tapi tentu saja, buku ini juga digunakan untuk membantah berbagai buku memoar lain yang ditulis oleh Habibie dan Sintong Panjaitan. Sampai hari ini, simpang siur teori konspirasi ini membingungkan dan tampaknya kesempatan untuk mendapatkan kejelasan justru pada hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 yang sudah dibundel dan siap dijadikan materi persidangan HAM. Tapi sayang, hasil temuan ini sampai sekarang tidak bisa diakses oleh publik.

hoaxadhocham2006Sementara itu, rupanya ketidakpastian hukum mengenai penyelesaian kasus penculikan aktivis dan kerusuhan Mei 1998 ini dimanfaatkan untuk menyebarluaskan kebohongan kepada publik. Sebuah informasi yang saya yakini palsu diedarkan kepada publik dan mengakibatkan kesesatan informasi perihal hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 tentang penghilangan paksa. Darimana keyakinan tersebut muncul? Karena sebenarnya kita bisa membaca Ringkasan Eksekutif dari hasil temuan Tim Ad Hoc Komnas HAM 2006 tentang penghilangan orang secara paksa 1997-1998 lewat pusat data ELSAM. Silakan dibandingkan sendiri bahwa persoalan kompleks tersebut tidak mungkin disampaikan hanya lewat selembar kertas kesimpulan sebagaimana yang beredar luas saat ini.

Tanggal 20 Mei saat orang mengingat gerakan pemuda dan slogan Kebangkitan Nasional kemudian bisa saja meluas menjadi nasionalisme ultra-kanan atau bisa jadi pemujaan pada negara sendiri ala “right or wrong my country” sebetulnya bisa menjadi sebuah cerminan bagaimana kita selama ini memahami persoalan kepemudaan dan perubahan sosial secara serba tanggung dan canggung. Ketika golongan tua tidak mau memberi kesempatan bagi yang muda untuk memimpin, ketika investasi pada orang-orang muda oleh negara hanya diwujudkan dalam bentuk seremonial dan artifisial tanpa pernah menyentuh persoalan konkrit bagi para pemuda Indonesia saat ini: pengenalan politik lewat institusi pendidikan, edukasi kesehatan reproduksi seksual sejak dini, sikap toleran pada perbedaan dan lainnya.

Lalu pada 21 Mei nanti ketika Hari Reformasi ditetapkan berdasar pengunduran diri Soeharto sebagai presiden setelah 32 tahun memerintah adalah hari dimana kita betul-betul harus bertanya pada diri kita sendiri: bagaimana persoalan bisa terselesaikan bila masa depan bangsa ini diserahkan pada orang-orang yang terlibat dan berada dalam pusaran masalah Mei 1998 itu sendiri.

Persoalan-persoalan di bulan Mei ini terlalu lama dibiarkan. Maka sebenarnya ketika kita berbicara ingin maju ke depan — tanpa pernah menyelesaikan persoalan-persoalan ini — adalah masturbasi saja.

[dam]

Sumber tulisan:

Debat TV One – Episode Capres Pelanggar HAM 28 April 2014

Mugiyanto mencari keadilan – BBC Indonesia: http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2013/04/130415_tokoh_mugiyanto.shtml

Kawat Wikileaks 1761: https://www.wikileaks.org/plusd/cables/08JAKARTA1761_a.html

Ringkasan Eksekutif Laporan Tim Ad Hoc Penghilangan Orang Secara
Paksa: http://www.elsam.or.id/downloads/970006_LAPORAN_EKSEKUTIF_KASUS_PENGHILANGAN_PAKSA.pdf

Ten Days That Shook Indonesia (Asli): http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/98/0724/cs1.html

Sepuluh Hari Yang Menggoncang Indonesia (Terjemahan): http://danudika.wordpress.com/2012/08/07/sepuluh-hari-yang-mengguncang-indonesia-tragedi-mei-1998-asiaweek-investigation-24th-july-1998/

comment 0

Mei 98: 15 Tahun Lalu, Kini dan Masa Depan

“Ceritakan Sekali Lagi” dimulai dengan gambar pasukan Unit Reaksi Cepat (URC) dari kepolisian dan Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) dari tentara sedang berhadap-hadapan dengan mahasiswa-mahasiswi Trisakti pada 12 Mei 1998. Di tangan mereka, senjata mengarah ke atas. Di sisi lain, mahasiswa bergolak. Lalu muncul tulisan di tengah layar, sebuah puisi pendek yang saya tulis:
Ingatan akan peristiwa Mei ’98 / Yang satu susah melupakan / Yang lain tak mau diingatkan // Yang satu merasa ketakutan / Yang lain mau menghapuskan

15 Tahun Mei 98
Rabu Perempuan: 15 Tahun Mei 98

MENGAPA pada 15 tahun setelah kejadian Mei 98, saya masih merasa menjadi bagian dari yang susah melupakan itu. Kenangan itu ada di jauh di ingatan sana, seringkali tenggelam dalam aktivitas sehari-hari, namun ia bisa hadir dengan leluasa di hadapan saya kini dan masih akan lama hadir di masa depan. Kehadirannya masih dengan gugatan yang sama: sebenarnya apa yang terjadi?

Saya ingat, belum lagi genap sebulan bertanya dengan dua orang sahabat saya sembari melampaui senja, apakah mereka sungguh tahu apa yang terjadi pada kejadian 15 tahun lalu itu. Jawab keduanya berbeda. Seorang menjawab tidak terlalu yakin, malah sudah lupa. Sedang yang satu lagi, menjawab tahu, tetapi hanya sebatas yang ia tahu saja dari sejumlah diskusi yang pernah dilakukan. Dari pertemuan itu, terbit usulan untuk mengumpulkan kisahan Mei ’98 dari ingatan banyak orang. Saya menjawab apa yang akan dilakukan itu nantinya bukanlah sesuatu yang lurus dan pasti benar seperti halnya sebuah pelajaran sejarah, tetapi bagian dari bersejarah: harus tetap dialektis. Dan untuk melakukan hal tersebut, bukan hal yang sederhana. Lagipula bagaimana jika ada banyak yang berupaya untuk ‘melupakan’?

Sejak pertemuan dengan dua sahabat saya itu, setiap kali makan siang saya selalu bertanya kepada teman-teman kantor saya: apa yang mereka ingat pada kejadian Mei ’98. Karena usia mereka jauh lebih muda, semula saya tidak terlalu banyak berharap. Akan tetapi, yang saya temui: justru karena mereka masih SD atau SMP pada waktu Mei ’98, mereka bisa menghadirkan situasi yang tak pernah bisa dibayangkan oleh mahasiswa yang saat itu sedang larut dalam gerakan menghancurkan Orde Baru.

Sebut saja, Rani, mengingat kejadian itu terjadi saat ia SD dan ia ingat setiap kali harus berangkat sekolah, harus mendapat kejelasan dulu apakah jalanan aman atau tidak dari kerusuhan/demonstrasi. Kerap kali ia harus berdiam di rumah, setelah ayahnya mendapati ada perusuh yang dikabarkan akan datang ke daerah rumahnya di Sunter. Kawan semeja kami, Mira, punya kisah lain lagi. Waktu Mei ’98 itu ia masih SMP dan sekarang ia punya kesaksian atas peristiwa Mei ’98. Ia katakan pada saya, ada sejumlah anak yang kini usianya 15 tahun yang hidup bersama kita dari mereka yang dulunya diperkosa. Ia menemui anak dan ibunya di gereja tempat ia sembahyang. Yang saya temui dalam obrolan makan siang itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat. Ia nyata, senyata berbagai kisah yang barangkali pernah didengar orang.

Sama nyatanya dengan apa yang direkam dan ada dalam “Ceritakan Sekali Lagi”. Cerita dari banyak orang itu, yang sengaja nama dan posisinya tidak dicantumkan agar kita tidak bias dalam menilai informasinya, mewakili sebuah narasi sejarah dari ingatan kolektif banyak orang. Seingat saya, saya menemui banyak orang, meminta mereka bercerita apa yang mereka ingat tentang Mei ’98: orang biasa, cendekiawan, aktivis, orang yang saya kenal. Ternyata baik 5 tahun bahkan 15 tahun kemudian, kisahan mengenai Mei ’98 tetap ada. Itu berarti saya bukan satu-satunya yang susah melupakan.

Mungkin saja banyak orang sudah lelah untuk mengharapkan perubahan. Wajar saja. Ada banyak lagi yang mengatakan yang berlalu biarlah jadi bagian dari masa lalu. Tetapi semua itu kemudian menjadi tak ada artinya setiap kali saya menatap anak saya, yang usianya akan 5 tahun bulan Juli nanti. Menatap mata polos itu, saya tak ingin ia dan generasinya mengalami apa yang pernah saya dan banyak orang di negara ini alami pada kejadian 15 tahun lalu. Jangan sampai terulang kembali.

Itu sebabnya, saya mengundang siapapun yang tertarik untuk datang menyaksikan “Ceritakan Sekali Lagi” dan berbagi apa yang diingat tentang Mei ’98 untuk hadir pada acara RABU PEREMPUAN bertema “MEI ’98: 15 Tahun Lalu, Kini dan Masa Depan” pada hari/tanggal: Rabu, 15 Mei 2013 pukul: 17.00-19.00 WIB bertempat di Kedai Tjikini, Cikini Raya 17.

[dam]

Rilis “Ceritakan Sekali Lagi” Ceritakan Sekali Lagi