All posts tagged “rembang

comment 0

Yang Tidak Dipahami Denny Siregar dan Kelompok Pro Semen

SEJAK tahun 2014, saya intens mengamati bagaimana korporasi seperti PT Semen Indonesia berusaha menggiring opini publik di media dan juga di media sosial. Komentar saya biasanya pendek saja: mengerikan. Komentar tersebut bisa diartikan “menakutkan”, tetapi bisa juga diartikan dalam bentuk kiasan sebagai “luar biasa buruknya”.

comment 0

Yang Dipasung Semen Hari Ini

Saya baru sampai rumah, 01.00 pagi. Belum pernah saya berada dalam kondisi emosional yang seperti ini. Masih tidak mempercayai apa yang saya alami sehari ini: apa yang saya dengar, apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan; meski rapat-rapat panjang sudah dilakukan sebelumnya, perhitungan-perhitungan dikalkulasikan, tapi tetap saja, di dalam hati saya ada yang porak poranda.

comment 0

Ibu dan Perlawanan Untuk Perubahan

Sekian tahun lamanya kita terjebak pada pemarjinalan Hari Ibu menjadi sekedar hari sayang pada ibu dan melupakan latar sejarah peringatan Hari Ibu.

SETIAP tahun Hari Ibu selalu dirayakan dengan pertanyaan yang sama: “Sudah bilang sayang atau belum kepada ibu hari ini?” Agak lucu ya. Bukankah tak perlu hari khusus untuk mengucapkan sayang pada ibu? Tapi barangkali banyak orang perlu diingatkan untuk mengucapkan sayang pada ibunya. Mungkin.

comment 0

Dari Rembang, Belajar Melawan Keserakahan

Konsumsi berlebihan menjadi penyebab kerusakan bumi yang kita hidupi. Betapa mengenaskan 20% penduduk kaya dunia mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber daya alam dunia.

KINI kita semua hidup di zaman yang barangkali sulit dibayangkan satu atau dua abad yang lalu. Perubahan begitu drastis, beberapa orang menyebutnya revolusi, terjadi di banyak lini. Ekonomi berubah tidak lagi berdasarkan pada merkantilisme yang berprinsip Gold-Gospel-Glory, munculnya demokrasi modern yang ditandai dengan model partai politik dan pelibatan masyarakat sipil, hubungan sosial perlahan kian egaliter didukung dengan kemajuan teknologi komunikasi, kesehatan meningkat sehingga rata-rata usia kita lebih panjang umur dari generasi sebelumnya.
Namun tak bisa dipungkiri, kapitalisme dan liberalisasi pasar yang menjadi panglima dalam ekonomi dunia memunculkan konsumsi berlebihan seiring dengan semakin banyaknya pasar yang dicetak. Pertama-tama yang terasa adalah konsumsi berlebihan atas energi. Kebutuhan konsumsi listrik begitu membebani sehingga membutuhkan paling tidak cadangan minyak fosil lebih banyak daripada masa-masa sebelumnya dengan proyeksi akan habis dalam kurun waktu dekat. Kebutuhan lain yang mengikuti adalah konsumsi berlebihan akan sumber daya alam ekstraktif. Alam dikeruk dengan harapan mampu mengimbangi segala aspek pembangunan yang tak pernah berhenti. Seolah sulit betul mengharapkan pembangunan ini dihentikan.

Tatkala kita bicara membela kepentingan pembangunan, maka yang selama ini terpikir adalah tergerus adalah hak asasi manusia, kesejahteraan, dan kemerdekaan berpendapat. Malahan kita mendapati situasi yang terdengar retoris saja, seolah janji pembangunan akan melahirkan kemerdekaan dan kesejahteraan tak lebih dari slogan kosong di masa kampanye. Pada pelaksanaannya, banyak dari kita hidup dalam deprivasi kelayakan hidup, represi atas kebebasan, merasakan opresi hingga harus kelaparan dan kehilangan segalanya. Singkatnya, banyak dari kita yang dilumpuhkan. Hal ini bisa kita amati, dalam bentuk beragam, baik di negara kaya maupun di negara miskin.
Matinya Akal Sehat Karena Keserakahan
Setahun lalu, tepatnya pada 16 Juni 2014, ibu-ibu di Rembang mulai membangun tenda di dekat lokasi pendirian tapak pabrik PT Semen Indonesia. Mulanya mereka berkelompok untuk menyuarakan ketidaksetujuan atas rencana pendirian pabrik, terutama karena tidak dilibatkan dalam pembicaraan mengenai rencana pendirian pabrik. Kemudian setelah suara mereka tidak dengar, ibu-ibu Rembang memutuskan untuk menutup jalan dan saat itulah terjadi konflik dengan polisi yang berujung pada tindak kekerasan.
rembang1
Upaya hukum dilakukan oleh ibu-ibu dan warga Rembang untuk membawa persoalan ketidakadilan ini. Namun dalam proses pengadilan terjadi banyak kejanggalan. Pendapat akademisi yang sarat kepentingan, hukum yang dikompromikan mengakomodasi investasi, hingga alasan penolakan karena persoalan administrasi.
Mengangkat persoalan ini agar menjadi perhatian publik digiatkan dengan menggandeng banyak pihak, tetapi belum cukup untuk menghentikan kegilaan ini.
Kegilaan yang terjadi selama setahun ini di Rembang, menurut pendapat saya, disebabkan oleh keserakahan. Keserakahan itu telah membutakan mata dan menutup telinga dari pelbagai tentangan seputar pendirian pabrik semen. Bagaimana tidak, jelas saat ini tidak ada kebutuhan mendesak untuk memproduksi begitu banyak semen, tetapi karena didorong oleh spekulasi akan maraknya pertumbuhan infrastuktur pendukung rencana jangka menengah dan panjang yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, kawasan karst yang selama ini menjadi reservoir alami yang menampung kebutuhan air di pulau Jawa dikorbankan. Siapakah yang akan mendapat berkah pembangunan ini? Hanya segelintir pihak.
Maka tepat langkah yang dilakukan oleh ibu-ibu Rembang dalam memperingati 365 hari perjuangan mereka: berdoa di makam para pendiri desa, meminta keserakahan ini dihentikan agar pegunungan Kendeng tetap lestari dan kehidupan normal kembali. Namun selain doa, apalagi yang diperlukan?
Perlu Kearifan dan Melibatkan Banyak Pihak
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Presiden Joko Widodo selaku pemimpin negara ini perlu berpikir ulang dalam menengahi persoalan antara direktur dan investor PT Semen Indonesia dengan masyarakat Rembang yang menolak pabrik semen di kawasan karst Pegunungan Kendeng. Para pemimpin ini perlu arif mengambil kebijakan mengenai masa depan seperti apa yang akan terjadi di Rembang.
Ganjar Pranowo perlu belajar dari pemikiran Amartya Sen tentang pembangunan dan demokrasi. Lewat Pembangunan Sebagai Kebebasan ekonom dunia Amartya Sen mengatakan masalah-masalah yang muncul seperti kemiskinan dan tirani, minimnya peluang ekonomi dan kemiskinan sosial sistematis, penelantaran sarana umum, dan intoleransi, campur tangan rezim, haruslah menjadi hal utama yang diatasi oleh pembangunan. Fokus pembangunan yang terpenting, menurut Amartya Sen, adalah manusia itu sendiri. Pembangunan menjadi penting untuk memperluas kemerdekaan yang berhak didapat oleh setiap individu.
Oleh karenanya meluasnya kemerdekaan menjadi tujuan akhir dan cara utama dari pembangunan. Pembangunan harus bisa melenyapkan segala hal yang membelenggu kemerdekaan. Karenanya ekonomi dan kemerdekaan politik bukanlah saling meniadakan, tetapi harusnya saling membantu satu sama lain.
Secara teoritis, pandangan Amartya Sen sangat menarik. Apalagi bila kita bumikan pada apa yang terjadi di Indonesia sejak zaman Orde Baru. Ketika itu, Soeharto berpikir satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup dan membangun negara yang kuat adalah dengan mencapai pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi yang pesat dengan kekuasaan otoriter. Yang terjadi kemudian, keran investasi asing dibuka lebar dengan kompromi deforestasi atas nama pembangunan, tetapi kemerdekaan masyarakat dilucuti. Tapi kita tahu, pembangunan semacam itu begitu berdampak buruk dan mendapat perlawanan pada 1997/98.
rembang2
Maka apabila warga Rembang tidak dilibatkan dalam menentukan masa depannya sendiri dan apa yang terjadi kemudian diputuskan berdasar atas kepentingan modal dan kuasa, pembangunan yang memperluas kemerdekaan seperti yang dipikirkan Amartya Sen tidak akan terjadi di Rembang dan pegunungan Kendeng. Jangankan menyentuh kemerdekaan masyarakat, menyejahterakan warganya saja telah terbukti gagal diwujudkan di pelbagai pabrik semen di Indonesia satu dua dekade terakhir.
Bukankah itu pula yang disuarakan ibu-ibu Rembang saat selesai nyekar ke makam para pendiri desa? Hari ini mereka menagih janji Ganjar Pranowo setahun lalu agar ada rembuk bersama warga daripada menyerahkan masa depan Rembang lewat proses pengadilan yang manipulatif. Seberapa sulit mewujudkan permintaan tersebut dan belajar lebih arif dengan mendengarkan pendapat banyak pihak? Menurut pendapat saya, hal itu tidak sulit untuk dilakukan oleh Ganjar Pranowo, bahkan oleh Jokowi sekalipun. Masalahnya tinggal, ada kemauan atau tidak dari para pemimpin tersebut. Bila tidak, tak ada cara lain selain terus melawan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.
[dam]